KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT dan kepada Nabi kita Muhammad
SAW, karena atas ridhonya kami dapat menyelesaikan makalah tentang krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia.
Makalah
ini dibuat untuk teman-teman mahasiswa yang ingin tahu lebih dalam lagi tentang
masalah krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia, yaitu krisis moneter pada
tahun 1998, krisis global tahun 2008, krisis Eropa tahun 2011.Dalam makalah ini
menyediakan tentang pengertian krisis ekonomi, penyebab dan dampak dari krisis
ekonomi.
Makalah
ini disusun sedemikian rupa agar teman-teman mahasiswa mudah memahami
penjelasan yang kami paparkan di makalah ini. Kami mohon maaf apabila ada
kekurangan di dalam makalah ini.
Kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses
pembuatan makanlah ini. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat bagi para
pembaca.
KELOMPOK 4
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Krisis
ekonomi merupakan suatu situasi dimana perekonomian suatu negara mengalami
penurunan nilai tukar mata uang harga kebutuhan pokok yang semakin tinggi. Ada beberapa kasus krisis ekonomi yang pernah terjadi di dunia
diantaranya krisis
ekonomi Indonesia
tahun 1997-1998,
krisis ekonomi global tahun 2008 dan krisis ekonomi Eropa tahun 2011.
Krisis
moneter yang terjadi di Indonesia tahun 1997 berawal dari kebijakan pemerintah Thailand di
mulai pada juli 1997 untuk
mengembangkan mata uang Thailand Bath terhadap Dollar US,
dan mempengaruhi mata
uang, bursa saham, dan harga aset lainnya di beberapa negara Asia. Krisis moneter yang terjadi berkembang menjadi krisis
multi dimensi, dan hampir semua orang Indonesia terkena imbasnya. Krisis
moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997 melumpuhkan kegiatan
ekonomi karena puluhan bahkan ratusan perusahaan mulai dari skala kecil sampai
milik konglomerat bertumbangan. Lebih dari 70 persen perusahaan yang tercatat
di pasar modal mengalami kebangkrutan. Keadaan ini diperberat
dengan berbagai musibah nasional seperti kegagalan panen padi di banyak tempat
karena musim kering berkepanjangan dan hama, kebakaran hutan besar-besaran di
Kalimantan dan peristiwa kerusuhan di banyak kota pada pertengahan Mei 1998
lalu.
Krisis ekonomi global tahun 2008 berawal pada 15
september 2008 dengan kebangkrutan Leman Brothers yang merupakan salah satu
perusahaan investasi atau bank keuangan senior dan terbesar ke 4 di Amerika
Serikat menjadi awal dari drama krisis keuangan di Negara yang mengagungkan
sistem kapitalis tanpa batas. Beberapa saat setelah informasi runtuhnya pusat
keuangan di Amerika, transaksi bursa saham di Hongkong, Cina, Australia,
Singapura, Korea Selatan dan Negara lainnya mengalami penurunan drastis bahkan
Bursa Saham Indonesia(BEI) harus disuspend selama beberapa hari dan membuat
panik pemerintah Indonesia.
Krisis eropa tahun 2011 berawal dari jatuhnya
perekonomian Negara anggota Uni Eropa yang dipicu oleh melonjaknya beban utang
dan deficit fiscal Negara anggota Uni Eropa, utamanya Yunani. Keserakan
pemerintah di beberapa Negara Eropa, seperti Yunani, Portugal, Irlandia, dan
Spanyol. Manajemen budget pemerintah amat buruk. Pengeluaran pemerintah yang di
biayai oleh hutang amat boros. Akibatnya mereka kesulitan membayar
hutang.Keserakahan pemerintah ini juga di topang dengan keserakahan lembaga
pemberi hutang, yang terus berani memberikan hutang kepada pemerintah di
Negara-negara tersebut.
Sekarang
Negara-negara ini kesulitan membayar hutang mereka. Kalau mereka gagal membayar
hutang mereka, akan banyak pihak pemberi hutang, yang akan menderita rugi
besar. Kerugian pemberi hutang, khususnya bank dan lembaga keuangan lain, akan
menjalar ke pihak lain. Kesaling-terkaitan antara bank dan lembaga keuangan
akan berdampak pada meluasnya dampak krisis keuangan ini ke banyak Negara
Eropa, termasuk Jerman dan Prancis.
I.2 RUMUSAN
MASALAH
Adapun makalah ini dibuat dengan rumusan
permasalahan:
·
Apa
itu Krisis Moneter, krisis Ekonomi global, Krisis Eropa?
·
Apa
penyebab terjadinya krisis Moneter, Krisis Ekonomi Global, Krisis Eropa?
·
Apa
dampak dari krisis Moneter, Krisis Ekonomi Global, Krisis Eropa?
·
Apa
solusi untuk mengatasi Moneter, Krisis Ekonomi Global, Krisis Eropa?
I.3 TUJUAN
Supaya mahasiswa dapat lebih kritis terhadap
situasi krisis ekonomi yang mana
sekarang menjadi topik hangat dan dilema luar biasa bagi seluruh dunia. Paling
tidak mahasiswa dapat memecahkan masalah kecil yang berhubungan dengan krisis
ekonomi global tersebut. Diharapkan pula makalah ini dapat menjadi acuan
belajar dalam mempelajari permasalahan ekonomi di Perguruan Tinggi.
1.4 Metode
Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode kepustakaan dan
surfing di internet
v
Bab II
TEORI
II.1 Krisis
Moneter 1997
Selama lebih dari 30 tahun rezim orde baru memimpin Indonesia berhasil
mengangkat kondisi kehidupan ekonomi dan sosial secara sangat berarti.
Penghasilan per kapita meningkat dari hanya sekitar 70 dollar AS pada
pertengahan 1960-an menjadi lebih dari 1000 dollar AS pada pertengahan 1990-an.
Prasarana yang langsung melayani masyarakat maupun yang mendukung kegiatan
ekonomi dibangun secara luas. Kemiskinan menurun drastis dan berbagai indikator
kesejahteraan sosial, mulai dari harapan hidup, tingkat kecukupan gizi , tingkat
kematian ibu dan anak, sampai ke tingkat partisipasi penididikan, ketersediaan
air bersih dan perumahan, semuanya menunjukan perbaikan yang berarti. Indonesia
menjadi contoh pembangunan yang sukses( Hill, 1996), (World Bank : 1993)
Sebelum krisis hampir semua indikator-indikator
kinerja ekonomi Indonesia menunjukan perkembangan yang baik. Indonesia terlihat
jauh dari krisis tidak ada tanda-tanda yang terlalu merisaukan atau memberi
pertanda bahwa krisis yang serius akan menerpa.
Berikut ini beberapa indikator tersebut (McLeod,
1998):
§ Pertumbuhan Ekonomi. Sejak akhir dasawarsa 1980-an ekonomi
tumbuh rata-rata sekitar 8% per tahun dan pada pertengahan 1997 tumbuh dengan
laju tahunan 7,4%.
§ Inflasi. Sejak awal 1980-an rata-rata sekitar 9% per
tahun dan cenderung menurun: laju tahunan 6% pada 1986 dan 5,1% pada Juni 1997.
Indeks Harga Konsumen (IHK) tidak menunjukan gejala overheating.
§ Neraca Pembayaran. Selama 1990-an nilai ekspor tumbuh
14% dan melambat menjadi 3% dari PDB sedikit melebar menjelang krisis menjadi sekitar 4%. Tetapi
ketekoran ini diimbangi dengan aliran modal masuk jangka-pendek portofolio, dan
investasi langsung- yang lebih besar sehingga cadangan devisa meningkat tajam:
selama 10 bulan menjelang krisis meningkat 38% menjadi 28 miliar dollar AS.
§ Harga Aset. Pasar modal bergairah. IHSG naik-turun,
tetapi trennya menigkat: 514 pada akhir 1995, 637 pada akhir 1996, dan 720 pada
Juli 1997. Dalam tahun-tahun sebelum krisis pembangunan properti-perumahan,
hotel, pertokoan, perjantoran-meningkat pesat dan harga properti juga terus
meningkat.
§ Kurs,Tingkat Bunga, Simpanan, dan Kredit Bank. Karena
aliran modal masuk besar, kurs rupiah cenderung menguat dan menempel pada batas
bawah rentang intervensi Bank Indonesia. Tingkat bunga dalam negeri stabil, sedangkan
simpanan-tabungan, deposito, dan kredit perbankan-meningkat sangat pesat.
Krisis moneter yang terjadi di Indonesia berawal dari
krisis finansial yang terjadi di Thailand pada pertengahan 1997. Sebelumnya Indonesia terlihat jauh dari
krisis tidak seperti Thailand, Indonesia memiliki laju infalasi terkendali,
tingkat pengangguran relative rendah, neraca pembayaran secara keseluruahan
masih surplus meskipun defisit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlah
nya masih terkendali. Namun, terdapat kekurangan struktural seperti peraturan
perdagangan
Ketika
pemerintah Thailand mengembangkan mata uang bath terhadap dollar AS, otoritas
moneter Indonesia melebarkan jalur perdagangan dari delapan persen menjadi dua
belas persen. Rupiah mulai terserang kuat di Agustus. Pada 14 Agustus 1997,
pertukaran floating teratur ditukar dengan pertukaran floating bebas. Rupiah
merosot tajam dari rata-rata Rp 2,450 per dollar AS Juni 1997 menjadi Rp 13,513
akhir Januari 1998, namun kemudian berhasil menguat kembali menjadi sekitar Rp
8,000 awal Mei 1999.
II.1.1 Penyebab
Krisis Ekonomi Moneter tahun 1998
Gejala keguncangan keuangan di Thailand sudah terlihat
beberapa bulan sebelumnya, tetapi mulai terasa di negara-negara tetangga
setelah Thailand mengembangkan kursnya pada awal Juli 1997.
Pengurangan aliran modal masuk ke Asia Tenggara mengakibatkan kurs
matauang-matauang lain di kawasan ini, termasuk rupiah ikut goncang.
Presiden
Soeharto dalam pidatonya di depan DPR 10 Agustus 1997 mengatakan : “
Guncangan-guncangan yang melanda mata uang berbagai Negara di kawasan Asia
Tenggara akhir-akhir ini adalah wujud nyata dari pengaruh negative perekonomian
dunia terbuka. Perubahan kurs satu maa uang dengan cepat dapat merembet ke
berbagai mata uang lainnya. Kenyataan ini tidak dapat dihindari oleh Negara
mana pun, oleh pelaku ekonomi mana pun. “ Amerika Serikat dan Jepang sekalipun,
pernah mengalami kemerosotan nilai mata uangnya masing-masing. Tetapi, di kedua
Negara ini nyata betul bahwa dinamika ekonomilah yang paling menentukan
naik-turunnya nilai mata uang mereka. Rumor sesekali mewarnai kurs, tetapi
tidak pernah bisa bertahan lama. Harus diingat pula bahwa pergerakan kurs
terjadi sangat dinamis dan bersifat dua arah: suatu ketika naik lain waktu
turun. Ini bisa terjadi karena basis ekonominya sudah kuat dan mapan. Selain
itu, patut digarisbawahi bahwa ketergantungan mereka pada luar negeri relatif
kecil, misalnya terlihat dari porsi ekspor dan impor terhadap produk nasional
bruto.
Di
sejumlah Negara Asia Tenggara-terutama Indonesia dan kecuali Singapore- sejak
awal pembangunannya hingga sekarang, masih saja mengekalkan diri sebagai
perekonomian yang “ lebih besar pasak daripada tiang”. Konsumsi bangsa-bangsa
Asia Tenggara lebih tinggi daripada kemampuan produksinya. Impor barang dan
jasa lebih besar daripada ekspor barang dan jasa. Lebih parah lagi, kesenjangan
konsumsi-produksi dan impor-ekspor kian melebar.
Selama
lebih dari 30 tahun, rezim orde baru menitikberatkan pembangunan pada bidang
ekonomi dengan penekanan ekstra pada besaran besaran makroekonomi. Kalau
kondisi ketekoran terus berlangsung, bahkan cenderung semakin besar, berarti
ada yang salah dalam mengelola perekonomian. Pantas pula kita mempertanyakan
tentang arah dan efektivitas pinjaman luar negeri dam PMA yang masuk selama
ini.
Anwar
Nasution melihat besarnya defisit neraca berjalan dan utang luar negeri,
ditambah dengan lemahnya system perbankan nasional sebagai akar dari terjadinya
krisis financial ( Nasution : 28 ). Bank dunia melihat adanya empat sebab utama
yang bersamaan membuat krisis menuju kearah kebangkrutan ( World Bank, 1998, pp.
1.7-1.1).
Menurut Lepi T Tarmidi faktor penyebab krisis moneter
di Indonesia menurut urutan kejadiannya:
1.
Dianutnya sistem
devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai, memungkinkan
arus modal dan valas dapat mengalir keluar masuk secara bebas berapapun
jumlahnya.
2.
Tingkat
depresiasi rupiah yang relative rendah, berkisar antara 2.4%(1993) hingga 5.8%
(1991) antara tahun 1988 hingga 1996, yang berada di bawah nilai tukar
nyatanya, menyebabkan nilai rupiah secara kumuliatif sangat overvalued. Ditambah dengan kenaikan
pendapatan penduduk dalam nilai dollar AS yang naiknya relative lebih cepat
dari kenaikan pendapatan nyata dalam Rupiah, dan produk dalam negeri yang makin
lama makin kalah bersaing dengan produk impor. Nilai rupiah yang overvalued berarti juga proteksi industri
yang negatif. Akibatnya harga barang impor menjadi relatif murah dan produk
dalam negeri relatif mahal, sehingga masyarakat memilih barang impor yang kualitasnya
lebih baik. Akibatnya produksi dalam negeri tidak berkembang, ekspor menjadi
kurang kompetitif dan impor meningkat. Nilai rupiah yang sangat overvalued ini sangat
rentan terhadap serangan dan permainan spekulan, karena tidak mencerminkan
nilai tukar yang nyata.
3. Akar dari
segala permasalahan adalah utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah
sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena tidak tersedia
cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh tempo beserta bunganya (bandingkan
juga Wessel et al.: 22), ditambah sistim perbankan nasional yang lemah.
Akumulasi utang swasta luar negeri yang sejak awal tahun 1990-an telah mencapai
jumlah yang sangat besar, bahkan sudah jauh melampaui utang resmi pemerintah
yang beberapa tahun terakhir malah sedikit berkurang (oustanding official
debt). Ada tiga pihak yang bersalah disini, pemerintah, kreditur dan beditur.
4.
Permainan yang dilakukan oleh spekulan asing
(bandingkan juga Ehrke: 2-3) yang dikenal sebagai hedge funds tidak mungkin
dapat dibendung dengan melepas cadangan devisa yang dimiliki Indonesia pada
saat itu, karena praktek margin trading, yang memungkinkan dengan modal relatif
kecil bermain dalam jumlah besar. Dewasa ini mata uang sendiri sudah menjadi
komoditi perdagangan, lepas dari sektor riil. Para spekulan ini juga meminjam
dari sistim perbankan untuk memperbesar pertaruhan mereka. Itu sebabnya mengapa
Bank Indonesia memutuskan untuk tidak intervensi di pasar valas karena tidak
akan ada gunanya. Meskipun pada awalnya spekulan asing ikut berperan, tetapi
mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas pecahnya krisis moneter ini.
Sebagian dari mereka ini justru sekarang menderita kerugian, karena mereka
membeli rupiah dalam jumlah cukup besar ketika kurs masih di bawah Rp. 4.000
per dollar AS dengan pengharapan ini adalah kurs tertinggi dan rupiah akan
balik menguat, dan pada saat itu mereka akan menukarkan kembali rupiah dengan
dollar AS (Wessel et al., hal.1)
5.
Kebijakan fiskal dan moneter tidak konsisten dalam suatu
sistim nilai tukar dengan pita batas intervensi. Sistim ini menyebabkan
apresiasi nyata dari nilai tukar rupiah dan mengundang tindakan spekulasi
ketika sistim batas intervensi ini dihapus pada tanggal 14 Agustus 1997 (Nasution:
2). Terkesan tidak adanya kebijakan pemerintah yang jelas dan terperinci
tentang bagaimana mengatasi krisis (Nasution: 1) dan keadaan ini masih
berlangsung hingga saat ini. Ketidak mampuan pemerintah menangani krisis menimbulkan
krisis kepercayaan dan mengurangi kesediaan investor asing untukmemberi bantuan
finansial dengan cepat (World Bank,
1998: 1.10).
6. Defisit
neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research Department Staff: 10;
IDE),yang disebabkan karena laju peningkatan impor barang dan jasa lebih besar
dari ekspor dan melonjaknya pembayaran bunga pinjaman. Sebab utama adalah nilai
tukar rupiah yang sangat overvalued, yang membuat harga barang-barang impor
menjadi relatif murah dibandingan dengan produk dalam negeri
7. Penanam
modal asing portfolio yang pada awalnya membeli saham besar-besaran
diming-imingi keuntungan yang besar yang ditunjang oleh perkembangan moneter
yang relative stabil kemudian mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar
(bandingkan World Bank, 1998, hal. 1.3, 1.4; Greenwood). Selisih tingkat suku
bunga dalam negeri dengan luar negeri yang besar dan kemungkinan memperoleh
keuntungan yang relatif besar dengan cara bermain di bursa efek, ditopang oleh
tingkat devaluasi yang relatif stabil sekitar 4% per tahun sejak 1986
menyebabkan banyak modal luar negeri yang mengalir masuk. Setelah nilai tukar
Rupiah tambah melemah dan terjadi krisis kepercayaan, dana modal asing terus mengalir
ke luar negeri meskipun dicoba ditahan dengan tingkat bunga yang tinggi atas surat-surat
berharga Indonesia (Nasution: 1, 11). Kesalahan juga terletak pada investor
luar negeri yang kurang waspada dan meremehkan resiko (IMF, 1998: 5). Krisis
ini adalah krisis kepercayaan terhadap rupiah (World Bank, 1998, p. 2.1).
8. IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus
menunda pengucuran dana bantuan yang dijanjikannya dengan alasan pemerintah
tidak melaksanakan 50 butir kesepakatan dengan baik. Negara-negara sahabat yang
menjanjikan akan membantu Indonesia juga menunda mengucurkan bantuannya
menunggu signal dari IMF, padahal keadaan perekonomian Indonesia makin lama
makin tambah terpuruk. Singapura yang menjanjikan l.k. US$ 5 milyar meminta
pembayaran bunga yang lebih tinggi dari pinjaman IMF, sementara Brunei Darussalam
yang menjanjikan l.k. US$ 1 milyar baru akan mencairkan dananya sebagai yang
terakhir setelah semua pihak lain yang berjanji akan 8 Buletin
Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999 membantu telah mencairkan dananya dan
telah habis terpakai. IMF sendiri dinilai banyak pihak telah gagal menerapkan
program reformasinya di Indonesia dan malah telah mempertajam dan memperpanjang
krisis.
9. Spekulan
domestik ikut bermain (Wessel et al., hal. 22). Para spekulan inipun tidak
semata mata menggunakan dananya sendiri, tetapi juga meminjam dana dari sistim perbankan
untuk bermain.
10. Terjadi
krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas menyerbu membeli
dollar AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa menarik keuntungan dari
merosotnya nilai tukar rupiah. Terjadilah snowball effect, di mana serbuan
terhadap dollar AS makin lama makin besar. Orang-orang kaya Indonesia, baik
pejabat pribumi dan etnis Cina, sudah sejak tahun lalu bersiap-siap
menyelamatkan harta kekayaannya ke luar negeri mengantisipasi ketidak stabilan
politik dalam negeri. Sejak awal Desember 1997 hingga awal Mei 1998 telah
terjadi pelarian modal besar-besaran ke luar negeri karena ketidak stabilan
politik seperti isu sakitnya Presiden dan Pemilu (World Bank, 1998: 1.4, 1.10).
Kerusahan besar-besaran pada pertengahan Mei yang lalu yang ditujukan terhadap
etnis Cina telah menggoyahkan kepercayaan masyarakat ini akan keamanan harta,
jiwa dan martabat mereka. Padahal mereka menguasai sebagian besar modal dan kegiatan
ekonomi di Indonesia dengan akibat mereka membawa keluar harta kekayaan mereka
dan untuk sementara tidak melaukan investasi baru.
11. Terdapatnya
keterkaitan yang erat dengan yen Jepang, yang nilainya melemah terhadap dollar
AS (lihat IDE). Setelah Plaza-Accord tahun 1985, kurs dollar AS dan juga mata uang
negara-negara Asia Timur melemah terhadap Yen Jepang, karena mata uang negara- negara
Asia ini dipatok dengan dollar AS. Daya saing negara-negara Asia Timur meningkat
terhadap Jepang, sehingga banyak perusahaan Jepang melakukan relokasi dan
investasi dalam jumlah besar di negara-negara ini. Tahun 1995 kurs dollar AS
berbalik menguat terhadap Yen Jepang, sementara nilai utang dari negara-negara
ini dalam dollar AS meningkat karena meminjam dalam Yen, sehingga menimbulkan
krisis keuangan. (Ehrke: 2)
II.1.2 Dampak
Krisis Moneter Indonesia 1998
Krisis
keuangan yang mulai muncul pada pertengahan 1997 terus memburuk dan memasuki
tahun 1998 berkembang menjadi krisis ekonomi berskala luas dengan dampak
negatif yang langsung dirasakan oleh masyarakat banyak. Dampak tersebut
diantaranya dirasakan dibidang ekonomi secara umum , politik dan budaya.
Indonesia
didera krisis perekonomian yang sebenarnya akumulasi persoalan di masa lalu
seiring dengan terjadinya krisis regional di hampir semua belahan Asia. Krisis
ini di tandai dengan adanya penurunan pada nilai tukar rupiah terhadap dollar
dan pemasukan dalam rupiah pun menjadi kolaps. Kondisi perekonomian seperti ini
akan merambah ke semua sektor, likuidasi beberapa bank, penutupan perusahaan,
PHK besar-besaran dan harga-harga bahan pokok yang semakin melonjak. Sehingga
krisis moneter ini akan memicu terjadinya krisis sosial di masyarakat, yang
akhirnya juga dapat memicu krisis politik.
Dampak
yang dirasakan oleh sektor perbankan yaitu ketidakpercayaan terhadap rupiah
menjalar menjadi ketidakpercayaan terhadap perbankan. Krisis tersebut membawa
kepanikan kepada para nasabah bank karena mahalnya kredit bank sehingga sektor
keuangan langsung berpengaruh negatif terhadap sektor riil (kegiatan produksi,
perdagangan, investasi, konsumsi). Dimana perusahaan yang tidak memperoleh
pinjaman dari bank mulai melakukan PHK terhadap karyawannya.
Ambruknya ekonomi nasional mendorong
perusahaan memutuskan hubungan pekerjanya, inflasi yang meningkat dan berbagai
permasalahan lainnya semakin banyak jumlah penganguran, berarti semakin banyak
penduduk yang miskin. Hal itu tercermin dengan adanya 80 juta jiwa penduduk
miskin pada tahun 1999.
Krisis moneter yang menjalar pada
krisis sosial, politik, dan budaya disebebkan karena lemahnya struktural pada
kehidupan sosial dan politik serta lemahnya berbagai nilai budaya di
masyarakat. Lemahnya struktur sosial politik ini merupakan akibat dari
penekanan pendekatan keamanan dengan penciptaan kestabilan sosial politik
secara dipaksakan dalam era kepemimpinan orde baru.
Pada dasarnya pengalaman pembangunan
yang lalu dan krisis serta penanggulannya, dari keberhasilan dan kegagalan,
pembangunan dimasa depan harus lebih merata ke semua aspek kehidupan
bermasyarakat dan bernegara yang bedasarkan pada asas keadilan dan demokrasi.
Jalan keluar dari penyelesaian kasus krisis moneter ini, terlebih dahulu perlu
adanya suatu titik balik, dari pesimisme menjadi optimism, dari
ketidakpercayaan menjadi percaya, dari tanpa harapan menjadi penuh harapan.
Pemulihan ekonomi Indonesia ketinggalan jauh di banding dengan Thailand dan
Korea, kemungkinan krisis yang kita hadapi jauh lebih berat dan lebih kompleks
dibnading kedua negara tersebut. Krisis yang awalnya serupa dengan kedua negara
tersebut ternyata berakhir secara berbeda di Negara kita, dikarenakan
institusi-institusi yang menjadi pilar kehidupan ekonomi Indonesia ternyata
rapuh. Sense of urgency kita dan
kesungguhan upaya kita untuk keluar dari krisis tidak sekuat mereka.
II.1.3 Solusi
Krisis Moneter Indonesia 1998
Kebijakan jangka
pendek yang
di ambil untuk mengatasi
krisis moneter
1.
Pemulihan kepercayaan kepada perekonomian
dalam negeri serta didukungoleh perbaikan sistem distribusi dan pemulihan
kapasitas produksi. Thailanddan Korea
adalah dua negara lain di samping Indonesia yang dalam waktuhampir
bersamaan mengalami krisis serta meminta bantuan IMF. Sementarakedua negara
tersebut sudah melihatlight at the end of the tunnel, Indonesia tampaknya masih harus bersabar
lebih lama. Salah satu faktor pentingkeberhasilan tersebut ialah kedua negera
tersebut berhasil memulihkan kepercayaan baik terhadap investor dalam maupun
luar negeri. Oleh karena itu,Indonesia juga harus berusaha keras untuk
memulihkan kepercayaan dengan memenuhi keinginan stakeholders melalui
pendekatan OUI (outward, upward,dan inward) seperti yang dilakukan Thailand
(Watanagase, 1998).9 Pemulihan kepercayaan juga dapat dibantu dengan melobi
lembaga pemeringkat internasional, misalnya dengan meminta agar Indonesia tidak
dimasukkan dalam kategori negative watch. Dengan pulihnya kepercayaan,
nilai tukar akan menguat karena sentimen pasar positif dan terjadi capital
inflow sehingga rupiah menguat dan tekanan inflasi mereda. Dengan demikian,
suku bungadapat diturunkan ke tingkat yang wajar.
2.
Pelaksanaan restrukturisasi perbankan sesuai jadwal akan membantu menurukan
suku bunga melalui dua mekanisme sebagai berikut, Pertama, keharusan
untuk menutup bank insolven dan meningkatkan permodalan bank akan
mengurangi permintaan dana di PUAB oleh bank-bank tertentu yang secara
struktural mengalami kekurangan likuiditas. Kedua, dengan
dilikuidasinya bank-bank tersebut maka BLBI akan dapat dibatasi
sehingga pertumbuhan uang beredar akan terkendali. Dengan demikian, laju
inflasi akan menurun dan suku bunga bisa
diturunkan.
Kebijakan jangka menengah-panjang
1.
Kewajiban menempatkan capital inflow
jangka pendek di Bank Sentral selamasatu tahun dengan persentase tertentu tanpa
imbalan dapat dipertimbangkanuntuk mengurangi Pengertian kebijakan jangka
menengah-panjang ini bukan berarti kebijakan yang semuanya akan ditempuh
pada jangka menengah- panjang. Sebagian kebijakan tersebut sudah
dilaksanakan tetapi hasilnya barutampak pada jangka menengah-panjang dan
sebagian lainnya akan lebih tepatuntuk dilaksanakan kemudian. investasi yang
hanya mencari keuntungan dariarbitrase dan tidak bermanfaat bagi
perekonomian dan mendorong peningkatanarus modal
yang berjangka lebih panjang yang lebih
bermanfaat bagi perekonomian. Kewajiban seperti ini telah lama
diterapkan di Chile dengan mengenakan reserve
requirement sebesar 30% selama satu tahun atas aliranmodal masuk.
2.
Pembatasan kewajiban luar negeri baik
sektor pemerintah maupun swastaterhadap kreditor luar negeri dalam berbagai
bentuk baik berupa pinjamanmaupun surat-surat utang lainnya, seperti CP, MTN,
dan FRN. Dalam hal ini pemerintah perlu menetapkan ukuran tertentu untuk
membatasi eksposur terhadap luar
negeri, misalnya dengan menggunakan nisbah (CA - FDI)/GDP(lihat Djisman
Simandjuntak, 1998). Semakin besar nisbah tersebut semakinrentan BoP karena
sebagian besar defisit current account dibiayai investasi portfolio yang
mudah berbalik arah. Agar efektif pembatasan tersebut, semua pihak yang
mempunyai kewajiban kepada pihak luar negeri wajibmenyampaikan laporan secara
berkala. Selain itu, untuk meningkatkan kehati-hatian di sektor eksternal, pada
tabel BoPperlu ditambahkan memorandumitem berupa data outstanding pinjaman
pemerintah dan swasta karena sistem pencatatan data pada BoP adalah
didasarkan atas konsep mutasi(flow)sehingga tidak terlihat besarnya
eksposur terhadap non-residen.
3.
Penyesuaian struktural
di sektor riil melalui deregulasi,
penghapusan monopoli, perbaikan sistem distribusi akan dapat
meningkatkan efisiensi dan mengurangigejolak di sektor riil yang sering memicu
inflasi. Peningkatan efisiensi produsisektor pangan dengan mempertahankan terms
of trade yang lebihmenguntungkan bagi petani ² akan dapat meningkatkan
ketahahan perekonomian.
4.
Di tingkat regional, perlu dibentuk
semacam regional surveillanceuntuk memelihara stabilitas
kawasan mengingat bahwa krisis ekonomi di Asia semulamerupakan contagion
effect dari krisis nilai tukar Thailand, walaupun faktor domestik
juga mempunyai peranan penting dalam terjadinya krisis.
5.
Di tingkat internasional, investor
internasional, seperti institutional investor danhedge fund yang sifatnya sangat volatile dan
cenderung memiliki sifatherd behavior,
perlu ditetapkan suatu lembaga yang mengatur kegiatan mereka
agar investasinya di negara-negara berkembang dapat bermanfaatbagi perekonomian
dan bukan sebaliknya malah menimbulkan instabilitas.
Lembaga tersebut dapat,mewaajibkan untuk memonitor kegiatan invesor internasional
dan menyampaikan laporan berkala ke semua negara agar
negara-negara penerima dana senantiasa mengetahui eskposurnya terhadap
investor asing.
II.2 Krisis
Ekonomi Global 2008
Krisis ekonomi Global
merupakan peristiwa di mana seluruh sektor ekonomi pasar dunia mengalami keruntuhan dan mempengaruhi sektor
lainnya di seluruh dunia. Inidapat kita lihat bahwa negara adidaya yang
memegang kendali ekonomi pasar dunia yangmengalami
keruntuhan besar dari sektor ekonominya. Bencana pasar keuangan akibatrontoknya
perusahaan keuangan dan bank-bank besar di Negeri Paman Sam satu per satu,tinggal menunggu waktu saja.Bangkrutnya Lehman
Brothers langsung mengguncangbursa saham di seluruh dunia. Bursa saham di kawasan Asia seperti di Jepang,Hongkong, China, Asutralia, Singapura, India,
Taiwan dan Korea Selatan, mengalami penurunan
drastis 7 sd 10 persen. Termasuk bursa saham di kawasan Timur Tengah,Rusia, Eropa, Amerika Selatan dan Amerika Utara.
Tak terkecuali di AS sendiri, Parainvestor di Bursa Wall Street
mengalami kerugian besar.
Krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun 2008 sebenarnya
bermula pada krisis ekonomi Amerika Serikat yang lalu menyebar ke negara-negara
lain di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Krisis ekonomi Amerika diawali
karena adanya dorongan untuk konsumsi (propincity to Consume). Rakyat
Amerika hidup dalam konsumerisme di luar batas kemampuan pendapatan yang
diterimanya. Mereka hidup dalam hutang, belanja dengan kartu kredit, dan kredit
perumahan. Akibatnya lembaga keuangan yang memberikan kredit tersebut bangkrut
karena kehilangan likuiditasnya, karena piutang perusahaan kepada para kreditor
perumahan telah digadaikan kepada lembaga pemberi pinjaman. Pada akhirnya
perusahaan –perusahaan tersebut harus bangkrut karena tidak dapat membayar
seluruh hutang-hutangnya yang mengalami jatuh tempo pada saat yang bersamaan.
Runtuhnya perusahaan-perusahaan finansial tersebut mengakibatkan bursa saham
Wall Street menjadi tak berdaya, perusahaan-perusahaan besar tak sanggup
bertahan seperti Lehman Brothers dan Goldman Sachs. Lehman Brothers Inc merupakan perusahaan sekuritas keempat terbesar di
Amerika Serikat. Lehman menderita
bangkrut karena tidak mampu membayar utang senilai 613 miliar dollar Amerika
Serikat kepada kreditor. Kebangkrutan Lehman
ini mempengaruhi banyak simpul ekonomi di berbagai negara. Karena Lehman
Brother sebelumnya menerima suntikan dana dari para investor dari berbagai
belahan dunia termasuk juga bank dunia yang memberikan pinjaman dana besar
kepada Lehman dan kini terkena imbas
kebangkrutan Lehman, yang akhirnya
mulai mengganggu sistem keuangan dunia.
Maka dari itu kebangkrutan Lehman membuat Amerika Serikat menyuntikkan dana sebesar 70 miliar
dollar AS, Bank Sentral Eropa 99,4 miliar dollar AS, Bank Inggris 35,6 miliar
dollar AS, Bank Nasional Swiss 7,2 miliar dollar AS dan Bank Jepang 24 miliar
dollar AS.
Berbagai suntikan dana di atas harus dilakukan oleh
berbagai pihak untuk mengantisipasi kebangkrutan yang lebih parah lagi terhadap
Lehman dan memberikan dana bagi para
investor yang menarik investasinya. Suntikan dana juga bertujuan menjaga
transaksi bisnis seperti pembiayaan perdagangan lintas dunia. Kebangkrutan
lainnya juga dialami Worldcom Inc dan
Enron Corp dengan kasus yang mirirp
dengan kebangkrutan yang dialami Lehman
Brothers Inc.Krisis
tersebut terus merambat ke sektor riil dan non-keuangan di seluruh dunia.
Krisis keuangan di Amerika Serikat pada awal dan pertengahan tahun 2008 telah
menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat Amerika Serikat yang selama ini
dikenal sebagai konsumen terbesar atas produk-produk dari berbagai negara di
seluruh dunia. Penurunan daya serap pasar itu menyebabkan volume impor menurun
drastis yang berarti menurunnya ekspor dari negara-negara produsen berbagai
produk yang selama ini dikonsumsi ataupun yang dibutuhkan oleh industri Amerika
Serikat. Oleh karena volume ekonomi Amerika Serikat itu sangat besar, maka
sudah tentu dampaknya kepada semua negara pengekspor di seluruh dunia menjadi
serius pula, terutama negara-negara yang mengandalkan ekspornya ke Amerika
Serikat.
II.2.1
Penyebab Krisis Ekonomi Global 2008
Penyebab krisis
global yang bermula Oktober 2008, sebagai berikut :
1. Defisit anggaran keuangan Amerika yang tercermin sejak laporan keuangan
Amerika 2007 silam akibat inflasi, perang Irak, kebebasan regulasi markt yang
liar, dan persaingan ekspor impor dengan negara lain.
2. Kasus Subprime Mortgage, paket pengkreditan rumah yang ditujukan untuk orang
‘miskin’ Amerika yang memiliki catatan peminjaman buruk.
3. Gaya hidup bergantung kredit yang melebihi batas, namun di bawah kesanggupan
membayar, bahkan tidak sedikit peminjam yang sebenarnya memiliki kredit rating
yang jauh di bawah standar tetap diberikan pinjaman demi kemudahan dan
kelancaran utang dan perekonomian Amerika.
4. Pengganti fungsi US Dollar dan penjaminan emasnya sebagai alat nvestasi
menjadi media utang oleh Fed Reserve
5. Terseretnya perbankan dan lembaga-lembaga besar keuangan Amerika sebagai
efek berantai sejak kredit macet subprime mortgage (dibutuhkan likuiditas dana
kas yang besar sehingga memicu penarikan massal dana besar-besaran dari bursa
Amerika termasuk dari negara-negara lain untuk menambal Wall Street)
6. Efek persiapan pemilu Amerika yang akan menentukan bentuk perekonomian
seperti apa yang akan berlanjut demokrat ataukah republik, sehingga investor
terlebih dahulu mengantisipasi “the worst case scenario” dalam pergerakan
ekonomi Amerika dengan pergerakan ancang-ancang kabur dari bursa.
Sebagai salah satu negara maju dunia, Amerika Serikat jelas memiliki peranan
yang cukup besar dalam dunia ekonomi politik internasional. Wall Street, pasar
saham terbesar yang terdapat di Amerika pun adalah pasar saham terbesar di
dunia. Dunia yang tanpa batas tempat kita berpijak saat ini, lebih seringnya
kita sebut dengan istilah Globalisasi, membuat keterkaitan antara berbagai
pihak menjadi sangat erat, terlebih dalam dunia ekonomi khususnya saham,
sehingga, kepanikan-kepanikan yang terjadi satu wilayah khususnya di pasar
saham akan dengan sangat cepat mempengaruhi pasar di wilayah lain. Inilah
penyebab terjadinya krisis yang mengglobal.
II.2.3
Dampak Krisis Ekonomi Global 2008
A. KONDISI
KEUANGAN GLOBAL (Amerika, Eropa, Asia, dan Australia)
Kondisi
bursa dan pasar keuangan secara global telah mengalami tekanan yang sangat
berat, akibat kerugian yg terjadi di pasar perumahan (subprime mortgages) yang
berimbas ke sector keuangan Amerika Serikat. Lembaga-lembaga keuangan raksasa mulai
bertumbangan akibat nilai investasi mereka jeblok. Banyak di antara
lembaga-lembaga keuangan yang sudah berusia lebih dari seratus tahun tersebut
harus meminta penyelamatan keuangan mereka apabila tidak mau gulung tikar.
Bahkan Fannie Mae dan Freddie Mac, sebagai lembaga penyalur kredit terbesar di
AS dengan nilai kredit mencapai sekitar USD 5 triliun, juga harus di selamatkan
oleh Pemerintah. Investment Banker sekelas Lehman Brother juga terpaksa menutup
usahanya. Kondisi bursa saham juga sangat memperihatinkan yang di tunjjukan
dgengan turunnya indeks Dow Jones kepada posisi yang sangat rendah (paling
rendah dalam dua decade terakhir).
Hal ini berimbas ke Negara-negara lain di Dunia, baik
di Eropa, Asia, Australia maupun Timur Tengah. Indeks harga saham di bursa
global juga mengikuti keterpurukan indeks harga saham bursa di AS, bahkan di
Asia termasuk di Indonesia, indeks harga saham menukik tajam melebihi penurunan
indeks daham di AS sendiri. Hal ini mengakibatkan kepanikan yang luar biasa
bagi para investor, sehingga sentiment negative terus berkembang, yang
mengakibatkan banyak harga saham dengan fundamental yang bagus, nilainya ikut
terus tajam. Selain keadaan yang memperhatinkan di lingkungan bursa saham,
nilai tukar mata uang di Asia dan Australia pun ikut melemah terhadap dolar AS.
Hal ini lebih di karenakan kekhawatiran investor asing yang menarik kembalu
investasinya sehingga menukarkannya kedalam dolar AS, sehingga mata uang local
menjadi tertekan.
B. DAMPAK
TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA
Ø
Dampak terhadap Perbankan
Dalam konteks perbankan, Pemerintah perlu
berhati-hati, karena tidak ada yang dapat memperkirakan dalam dan luasnya
krisis keungan global ini. Menyikapi permasalahan ini, Pemerintah dan otoritas
moneter telah melakukan beberapa langkah yang sangat tepat untuk mengurangi
kekhawatiran/ketidakpercayaan publik terhadap kapabilitas dan likuiditas
bank-bank nasional, yaitu antara lain:
- Penaikkan BI rate menjadi 9,5% untuk mengantisipasi depresiasi terhadap nilai
Rupiah dengan meningkatkan atraktifitas investasi dalam nilai Rupiah akibat
spread bunga domestik dan luar negeri yang cukup tinggi;
- Peningkatan jumlah simpanan di bank yang dijamin oleh Pemerintah dari Rp 100
juta menjadi Rp 2 milyar, untuk mengantisipasi rush akibat kekhawatiran
masyarakat terhadap keamanan simpanannya di bank. Hal ini dilakukan dengan
pengeluaran Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. (Perpu);
- Perluasan jenis aset milik bank yang boleh diagunkan kepada BI, yang tadinya
hanya meliputi aset kualitas tinggi (SBI dan SUN), namun melalui Perpu, aset
yang dapat dijaminkan diperluas dengan Kredit lancar milik bank (ditujukan
untuk mengantisipasi turunnya harga pasar SUN, yang terlihat dengan naiknya
yield). Hal ini ditujukan untuk mempermudah Bank dalam mengatasi kesulitan
likuiditas, sehingga dapat memperoleh jumlah dana yang cukup dari BI.
Kekhawatiran yang dialami oleh masyarakat terhadap dunia perbankan, sebenarnya
lebih berdasarkan pada sentimen negatif yang berlebihan akibat krisis di
Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Apabila penanganan krisis di
negara-negara tersebut berhasil, maka otomatis kekhawatiran masyarakat terhadap
perbankan nasional pun akan hilang. Namun sebaliknya, apabila krisis global
bertambah parah, maka kekhawatiran masyarakat juga akan meningkat yang dapat
mengakibatkan meningkatnya animo masyarakat untuk mengambil simpanannya di
bank-bank nasional, sehingga akan membuat ambruknya sendi-sendi perbankan
nasional. Untuk mengantisipasi hal ini, maka salah satu alternatif yang perlu dipikirkan
oleh Pemerintah adalah dengan menjamin 100% semua dana nasabah, termasuk dana
kredit yang dikucurkan oleh bank. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak
khawatir terhadap simpanannya dan dunia perbankan bisa berjalan dengan normal
sekaligus menjaga sektor riel bisa tetap bergerak dengan terjaminnya kebutuhan
dana dari perbankan.
Ø
Dampak terhadap Bursa Saham
Bursa saham Indonesia juga mengalami penurunan indeks yang signifikan, sampai
melebihi 11%, sehingga memaksa Otoritas Bursa untuk melakukan penghentian
perdagangan selama 3 hari untuk mencegah lebih terpuruknya bursa akibat
sentimen negatif. Untuk memitigasi kemungkinan lebih terpuruknya indeks yang
tidak mencerminkan fundamental perusahaan, maka telah diambil berbagai langkah
antar lain:
- Pelarangan short selling, dan penyelidikan terhadapa beberapa perusahaan
sekuritas yang disinyalir melakukan short selling pada saat terjadi kepanikan
di BEI.
- Penetapan auto rejection sampai dengan 10% (batas atas dan batas bawah) dari
sebelumnya sebesar 30%, untuk mencegah lebih terburuknya indeks dan di sisi
lain mencegah terjadinya aksi profit taking yang berlebihan dari investor.
(Walaupun sebenarnya kebijakan ini, terutama untuk ketentuan batas atas, akan
memperlambat pulihnya indeks/rebound).
- Pencanangan program buyback oleh Pemerintah dan BUMN yang diikuti dengan
pengendoran aturan buyback di bursa saham, yang bertujuan untuk menstabilkan
pasar saham serta mencegah dikuasainya aset negara oleh pihak-pihak asing
dengan harga sangat murah.
Ø
Dampak terhadap Nilai Tukar dan Inflasi
Dampak krisis keuangan jelas terlihat pada
nilai tukar Rupiah yang melemah terhadap dolar AS bahkan sempat mencapai RP
10.000/USD pada minggu kedua Oktober 2008. Hal ini lebih dikarenakan adanya
aliran keluar modal asing akibat kepanikan yang berlebihan terhadap krisis
keuangan global.
Dampak sejenis juga akan terjadi pada inflasi. Karena melemahnya Rupiah
terhadap USD, maka harga barang-barang juga akan terimbas untuk naik, karena
Indonesia masih mengimpor banyak kebutuhan termasuk tepung dan kedelai.
Ø
Dampak terhadap Ekspor dan Impor
Krisis keuangan global ini sudah pasti akan sangat berdampak kepada ekspor
Indonesia ke negara-negara tujuan ekspor, bukan hanya ke AS. Selama 5 tahun
terakhir ini, ekspor Indonesia ke Amerika menempati urutan ke-2 setelah Jepang
dengan kisaran masing-masing 12% – 15%. Selain itu, negara-negara importir
produk Indonesia pada urutan ke-3 s.d. 10 (Singapura, RRC, India, Malaysia,
Korsel, Belanda, Thailand, Taiwan) menyumbang sekitar 45% dari total ekspor Indonesia.
Dari informasi tersebut, hampir dapat dipastikan bahwa keseluruhan
negara-negara tersebut sedang mengalami dampak krisis keuangan global yang
berakibat pada perlambatan ekonomi di setiap negara. Lebih lanjut hal ini akan
mengakibatkan penurunan kemampuan membeli atau bahkan membayar produk ekspor
yang dihasilkan Indonesia, sehingga pada akhirnya akan memukul industri yang
berorientasi ekspor di Indonesia. Hal ini sudah terkemuka di publik melalui
media massa, terutama untuk sektor garmen, kerajinan, mebel dan sepatu, banyak
keluhan para pelaku bisnis yang mengatalami penurunan order dan kelambatan
pembayaran dari rekanan bisnis yang mengimport barangnya. (Data statistik belum
dapat diperoleh).
Dampak yang tidak menguntungkan juga terjadi di sisi impor, karena dengan
melemahnya Rupiah, maka nilai impor akan melonjak yang selanjutnya akan
menyulitkan para importir untuk menyelesaikan transaksi impor. Dampak
berikutnya adalah melonjaknya harga-harga bahan yang berasal dari impor di
pasar sehingga inflasi meningkat dan daya beli masyarakat juga akan menurun.
Hal ini selanjutnya mengakibatkan turunnya daya serap masayrakat terhadap
barang-barang impor sehingga pada akhirnya akan mengakibatkan penurunan jumlah
impor.
Ø
Dampak terhadap Sektor Riel dan Pengangguran
Dampak terhadap sektor riel dapat dilihat dari dua aspek, yaitu:
- Menurunnya order dari rekanan di luar negeri sehingga banyak perusahaan
kesulitan memasarkan produknya yang pada akhirnya harus melakukan efisiensi
atau rasionalisasi supaya dapat bertahan hidup.
- Melemahnya daya beli masyarakat Indonesia karena melemahnya mata uang Rupiah
dan kenaikan inflasi serta kesulitan likuiditas atau modal kerja dari perbankan
yang mengetatkan kebijakan pemberian kreditnya.
Kedua hal tersebut mengakibatkan industri di sektor riel menjadi tertekan,
sehingga apabila hal ini berlarut-larut akan melemahkan daya tahan perusahaan
yang akan berimbas pada kemungkinan melakukan PHK bagi para karyawannnya demi
mengurangi beban perusahaan atau karena memang perusahaan sudah tidak mampu
lagi beroperasi.
II.2.4 Solusi
Krisis Ekonomi Global
Ada 3 solusi untuk menanggulangi krisis global 2008-2009 ini, antara
lain:
1. Perwujudan system Ekonomi Mandiri
Sistem Ekonomi Mandiri adalah sebuah solusi yang baik untuk setiap
negara di dunia ini. Kepercayaan diri akan potensi masing-masing adalah hal
yang sangat penting sebelum perwujudan ekonomi mandiri ini. Perlu diingat,
ekonomi mandiri bukannya ekonomi mandiri yang kemudian bermuara pada tidak adanya
interaksi internasional yang menghiasi dunia internasional. Interaksi harus
tetap ada, namun kuantitasnya perlu dibatasi agar nantinya tidak bermuara pada
sebuah fenomena ketergantungan lagi.
2. Perkuat system regionalisasi ekonomi
Sistem Regionalissi ekonomi juga merupakan salah satu solusi yang
saya tawarkan untuk penyelesaian krisis global 2008-2009 ini. Sistem
Regionalisasi Ekonomi, jika terwujud menurut saya akan memberikan rasa
keterikatan secara batin yang lebih besar ketimbang kerja sama dengan
negara-negara yang tidak se-region. Rasa keterikatan yang lebih besar itu jelas
timbul dari kesamaan budaya leluhur yang tidak jauh beda dari negara-negara
yang terdiri dari satu region. Selain adanya kesamaan budaya leluhur, tentu
tentang pemahaman, paradigma, dan pola pikir dalam melihat sebuah persoalan
hampir sama. Hal ini kemudian saya percaya dapat meminimalisir terjadinya
konflik internal. Selain itu, solusi sistem ekonomi region ini juga saya
tawarkan dari semangat kerja sama dan gotong royong. Bahwa untuk suatu hal yang
dihadapi secara bersama tentu akan lebih mudah teratasi dari pada
sendiri-sendiri.
3. Sumberdaya manusia yang terlatih secara skill dan mental untuk
menghadapi derasnya cobaan dalam dunia ekonomi politik internasional.
II.3.1
Krisis Ekonomi Eropa 2011
Krisis
Eropa juga dapat dikatakan sebagai krisis euro akhirnya terangkat dipermukaan
sebagai isu yang panas, settelah stimulus krisis Yunani berhasil menarik banyak
perhatian dunia internasional. Bagaimana tidak, jika ternyata rentetan negara
tak mau ketinggalan mencuat dengan kabar adanya krisis yang terlihat dari
bagaimana mereka mencari dana pinjaman baik dari negara lain dan juga dari IMF,
seperti Italia dan Spanyol, ditambah indikasi krisis yang diperkirakan dialami
oleh Portugis, dan Irlandia. Setelah Yunani, Italia tergolong negara yang
krisisnya begitu disorot dunia internasional, terlebih dengan adanya “skandal”
kegagalan Berlusconi yang menyebabkan keterpurukan ekonomi namun sempat teguh
menolak untuk mengundurkan diri. Kegagalan mengentaskan Yunani dari krisis akan
menyeret negara Uni Eropa lain ke dalam krisis yang makin dalam, yang ternyata
tidak hanya disebabkan oleh persamaan mata uang. Uni Eropa, yang konon kini
menyisakan tiga negara kuat; yaitu Belanda, Perancis, dan Jerman telah berupaya
memberikan dana talangan, baik teratasnamakan negara dan juga teratasnamakan
komisi Uni Eropa. Menurut penulis, hal ini menggambarkan kesadaran para negara
anggota zona Euro, bahwa perluasan krisis akan sangat mungkin berlanjut dan
akan sangat merugikan.
Pada
dasarnya, sistem mata uang tunggal seakan menjadi pisau bermata dua, dalam
artian di satu sisi begitu menguntungkan dan menambah bagaining position negara
Eropa, namun di saat yang bersamaan penulis menilai ke-tunggal-an mata uang ini
penuh dengan celah yang berpotensi merugikan. Salah satunya perihal tingkat
adaptasi negara, tidak semua negara memiliki perekonomian yang cukup matang
untuk zona euro. Misalnya saja Yunani,
sejak masuk Uni Eropa di tahun 1980, dan masuk pula di zona euro, dalam satu
dekade pertama harapan penguatan ekonomi sama sekali tidak tercapai, yang
terjadi justru penurunan tingkat Gross National Product (GNP) Yunani dari 58%
menjadi 52%.
Adanya
sistem mata uang tunggal membuat negara-negara lain di Uni Eropa menjadi rentan
akan satu goncangan di satu pilar euro yang ada. Dampak signifikan secara
langsung akan dirasakan oleh negara-negara anggota-anggota eurozone. Harus dipahami
disini bahwa definisi zona eropa adalah kesepakatan beberapa negara, bahkan
yang diluar Uni Eropa yang sama-sama menggunakan mata uang euro, dan juga
adapula negara Uni Eropa yang ternyata tidak bergabung dalam zona euro, seperti
United Kingdom dan Denmark. Penggunaan term
“negara dalam zona euro” kini dapat disepakati mengarah pada
negara-negara pengguna euro. Adanya eurozoneyang
awalnya sangat menguntungkan kini menjadi momok paling mengerikan sebab hal ini
justru membuat upaya mempertahankan krisis di wilayah internal negara menjadi
upaya yang sia-sia bahkan nyaris mustahil.
II.3.2 Penyebab
Krisis Ekonomi Eropa 2011
Melihat secara umum bentuk persoalan
krisis yang di hadapi Eropa tersebut, dapat dikelompokan menjadi 4 dilema besar
yang mengakibatkan kondisi perekonomian Eropa menjadi carut-marut:
·
Debitur vs kreditor
Eropa
dihadapkan dengan menggemuknya utang pemerintahdan swasta yang banyak
diantaranya yang tidak membayar dan menjadi ancaman ketika bertabrakan pada
persoalan seberapa besar utang yang akan di write off dan siapa yang akan
bertanggung jawab atas itu. Serta jika kredit macet di hapus, artinya pada pihak
yang harus menanggung rugi. Inilah alasan utama hilangnya kepercayaan pada
system perbankan Eropa.
·
Penghematan vs pertumbuhan
Eropa harus
bias memacu pertumbuhan ekonomi saat melakukan penghematan fiscal. Dimana
setiap Negara yang dilanda krisis terus menciutkan anggaran belanja dan agar
pendapatan naik, pemerintah harus rela mengorbankan rakyat dengan memungut
pajak yang amat menyakitkan.
Masalahnya
adalah penghematan berarti menbunuh pertumbuhan ekonomi seluruh Eropa. Meskipun
mendapatkan sedekah pajak, pada kenyataannya pertumbuhan ekonomi lemah, sulit
bag pemerintah untuk menekan pijaman mereka, bahan embayar kembali utang yang
ada.
·
Disiplin vs solidaritas
Pandangan
Jerman pada krisis Zona Euro sangat sederhana. Pemerintah Eropa Selatan yang
memberikan suku bunga tinggi harus di hukum dan harus belajar disiplin. Jerman
menginginkan, Eropa Selatan memasukan aturan-aturan yang ketat dalam memutuskan
bresaran anggaran. Hal itu bermanfaat untuk menghentikan kecerobohan di masa
depan. Namun, aturan yang disertai denda atau penalty mungkin tidak kredibel.
Jerman merusak sendiri pakta stabilitas dengan melindungi mereka atas nama
solidaritas euro. Tujuannya adalah menjaga euro menjadi mata uang tunggal yang
stabil.
·
Eropa vs tiap Negara
Krisis
ekonomi Negara sebenarnya di bangun di atas kekuatan mata uang, kondisi
keuangan yang aman, dan laju ekspor yang kuat. Namun, pemilihan euro sebagai
mata uang tunggal Uni Eropa tak semudah sekenario awal. Eropa Selatan
menyimpulkan, penyatuan tersebut menimbulkan inflasi dan mahalnya biaya hidup
disana.
Sejak awal berdirinya pada 1950-an.
Uni Eropa telah berjalan dan di kendalikan oleh klub pemerintah nasional.
Proses politik menjadi salah satu isu tawar-menawar di balik pintu tertutup.
Isu-isu terus disuplai ke beberapa Negara pemilih dengan nama kepentingan
nasional. Akibat penyatuan ini, setiap kebijakan harus disetujui oleh 17
pemerintahan dan diratifikasi oleh 17 parlemen. Uni Eropa pun akhirnya dinilai
lamban menuntaskan masalah keuangan karena harus melibatkan persetujuan banyak
pihak.
Krisis Eropa merupakan bentuk
kerisis utang yang berasal dari Yunani, yang
kemudian
menjalar ke Irlandia dan Portugal serta menimbulkan efek domino ke bebrapa
Negara Uni Eropa lainnya. Yunani jika dilihat dari kaca mata sejarah merupakan
Negara dengan peradaban yang sangat berkembang pesat tetapi saat ini ketika
melihat Yunani maka yang di dapat adalah sebuah Negara denga corruption
perceptions index berada pada peringkat 71 dari 180 negara.
Adanya
ketidak jujuran pemerintah Yunani yang mengutak-atik nilai pertumbuhan ekonomi
makro-nya pun merupakan awal jatuhnya perekonomian Yunani di mana pemerintah
Yunani berusaha menutup-nutupi angka deficit Negara yang disebabkan oleh
banyaknya kasus penggelapan pajak, yang di perkirakan telah merugikan Negara
hingga US$ 20 miliyar per tahun.
Dan pada
awal tahun 2000-an, tidak ada yang memperhatikan fakta bahwa utang Yunani sudah
terlalu besar. Malah dari tahun 2000 hingga 2007, Yunani mencatat pertumbuhan
ekonomi hingga 4,2% per tahun, yang merupakan angka tertinggi di Zona Eropa.
Hasil dari membanjirnya modal asing ke Negara tersebut. Keadaan berbalik ketika
pasca krisis global 2008 dimana Negara-negara lain mulai bangkit dari masa
resesi, dua dari sector ekonomi utama Yunani yaitu sector pariwisata dan tercatat sebagai perkapalan, justru mencatat
penurunan pendapatan hingga 15%. Orang-orang pun mulai sadar mungkin ada yang
salah dengan perekonomian Yunani.
Di Irlandia
sendiri sedang terbelit Imbal Hasil (yield) surat utang (obligasi) yang di
terbitkan oleh pemerintah. Serta keadaan anggaran Negara yang mengalami deficit
hingga sebesar 32% terhadap produk domestic bruto tecatat sebagai deficit
anggaran terbesar di kawasan Eropa. Melihat fakta tersebut, sangat wajar kalau
krisis Irlandia mulai menyebar kekhawatiran global. Sebab posisi keuangan
Irlandia yang tdk stabil tersebut beresiko tinggi terhadap gagal bayar obligasi
yang diterbitkan pemerintah.
Adapun
keadaan Portigal yang tidak jauh dengan keadaan Yunani yang terbelit hutang,
mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi yang berefek terhadap kehidupan politik
dan social di Portugal. Di lansir, akibat krisis hutang tersebut 90% pekerja
gabungan dari pekerja kant pos, ruah sakit, dan pengajar melakukan pemogokan
guna menentang perluasan langkah penghematan pemerintah di dalam anggaran ketat
2012 dengan tujuan membantu negeri itu membayar utangnya.
Selain
Irlandia dan Portugal, kini perluasan krisis eropa telah menjalar ke Italia
seiring melonjaknya tingkat imbal hasil surat utang pemerintah. Tingkat imbal hasil
surat berharga tersebut melonjak hingga 7502 persen, tertinggi sejak euro di
perkenalkan pada tahun 1999. Mengakibatkan para investor terpaksa menjual
surat-surat berharga Italia setelah custodian Eropa menaikan koleteral yang
dibutuhkan untuk meminjam dengan surat itu. Investor pun semakin khawatir
ketidakstabilan kondisi politik setelah mundurnya Perdana Menteri Italia Silvio
Berlusconi bias menyebabkan reformasi ekonomi tyertunda.
Tidak hanya
kepada keempat Negara di atas, krisis ekonomi yang terjadi di Eropa sekarang
semakin terasa mempengaruhi Negara-negara Uni Eropa lainnya, seperti Spanyol
hingga “meracuni” Prancis. Krisruh ketidakstabilan ekonomi tersebutpun semakin
mengkhawatirkan Negara-negara Eropa bagian utara khususnya Jerman yang memiliki
peran penting dalam mekanisme perekonomian anggota Uni Eropa agar lebih bekerja
ekstra mengamankan euro sebagai mata uang anggota Uni Eropa hingga tidak
terpuruk pada nilai terendah. Sehingga untuk saat ini yang ditunggu adalah
bagaimana upaya Uni Eropa dapat mengatasi imbas krisis yang semakin menggunung.
II.3.3
Dampak Krisis Ekonomi Eropa 2011
A.
Dampak Krisis Eropa di Negara Zona Eropa
Dampak
pertama krisis Eropa langsung dirasakan oleh negara zona euro, antara lain
yaitu:
·
Memunculkan
instabilitas sistem moneter negara, mengingat kebijakan kawasan zona euro
berdampak langsung pada landscapedomestik
negara anggota.
·
Melemahnya
angka pendapatan negara, kembali, dikarenakan berkurangnya intensitas aktivitas
ekonomi antar negara, dan dampak ini akan lebih dirasakan oleh para negara zona
euro yang merupakan anggota Uni Eropa. Ketiga, adalah munculnya kewajiban
penghematan besar, seperti pemotongan berbagai macam tunjangan kesejahteraan
dan bagi mereka yang dianggap masih kuat, seperti Perancis,Jerman dan Belanda
maka mereka banyak mendapat sorotan untuk memberikan bantuan nyata bagi para
negara yang menghadapi krisis dan tuntutan untuk mempertahankan kekuatan euro
dimata internasional.
Penjelasan
mengenai dampak krisis euro di negara non-eurozone
mengantarkan kita pada satu gambaran umum bahwa suatu krisis sangatlah
sulit untuk hanya berada di wilayah lokal. Munculnya satu krisis akan menjadi
ancaman global. Hal ini diakibatkan adanya interdependensi serta interconnectedness yang tinggi hasil dari globalisasi, yang
menciptakan dunia sebagai ruang penuh titik yang mana satu sama lainnyasaling
mempengaruhi. Kajian Keohane dan Nye menemukan bahwa dunia saat ini memang
begitu kompleks, dan salah satu karakteristik utamanya adalah menurunnya
kekuasaan militer dan berganti dengan isu ekonomi (yang termanifestasi dalam
perdagangan bebas). Hal inilah yang menjadi dasar mengapa sebuah krisis ekonomi
sangat rentan pada efek “multiplikasi” (bentuk perluasan), sebab memang ekonomi
telah menjadi faktor dominan diarea saling ketergantungan dunia. Praktisnya
dilihat dari angka pendapatan yang diperoleh dari adanya investasi luar negeri,
perusahaan multinasional,ekspor-impor, akan sangat terpengaruh oleh goncangan
kestabilan perekonomian negara lain, terlebih jika negara tersebut memang
adalah partner bisnis utama.
B. Dampak Krisis Eropa terhadap perekonomian Indonesia
Mengingat perekonomian Indonesia
yang semakin terbuka, maka Indonesia rentan terhadap gejolak eksternal yang
membawa dampak terhadap kondisi ekonomi dan social Indonesia. Krisis keuangan
eropa dan AS memiliki dampak terhadap keuangan domestic. Dampak kerisis
keuangan Eropa dan AS ke pasar keuangan dalam negeri berupa perubahan harga
saham dimana pasar bereaksi teradap berita dan kondisi eksternal dan internal.
Stabilitas dan ketahanan ekonomi
hingga bulan November 2011 masih terjaga meskipun dihadapkan pada kondisi
Global yang masih tidak menentu. Hal ini tercermin dari beberapa indicator,
antara lain inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang masi tercukupi, kondisi
fisakal yang relative baik dan ekonomi domestic yang masih menjadi sumber
pertumbuhan ekonomi. Meskipun demikian, perekonomian nampaknya sensitive
terhadap sentiment negative pasar yang menyebabkan nilai tukar rupiah dan IHSG
melemah seiring dengan pelarian modal portofolio Global ke asset-aset yang di
pandang lebih sebagai save haven.
Dampak krisis ekonomi Eropa terhadap
perekonomian Indonesia antara lain:
Ø Masuknya Pasar Cina di Indonesia
Adanya krisis keuangan di benua Eropa khususnya di
Zona Euro yang terdiri dari 17 Negara membuat dampak kepada Asia ( Cina ) yang
terlalu sering melakukan ekspor impor ke Eropa membuat pasar Cina merubah jalur impornya dari Eropa ke Indonesia, pada
tahun 2011 dan sampai sekarang pun pasar Cina masih dominan di pasar Indonesia.
Ø Menurunnya Investor asing di Indonesia
Adanya krisis keuangan di Eropa membuat para Investor
khususnya WNA Eropa menarik dana nya di Indonesia untuk memberbaiki keuangan di
neagara asalnya walaupun tidak semua Investor menarik dananya, namun tetap
dirasakan dikeuangan Indonesia(Bank Indonesia). Membuat perubahan juga system
modal asing di Indonesia.
Ø Naiknya harga ekspor impor di Indonesia
Dengan adanya krisis Eropa sangat berpengaruh dalam
hubungan perekonomian Indonesia dari sector ekspor impor antar ( Indonesia
Eropa ), membuat kenaikan harga secara tiba-tiba dari pihak Eropa yang
berpengaruh kepada perubahan harga di Indonesia dalam ekpor impor pada periode
tersebut.
Ø Kelangkaan barang impor di Indonesia
Masuknya barang impor baik industri atau pangan sangat
pesat di Indonesia, sehingga dengan terjadinya krisis di Eropa membuat
pemesanan barang dari Indonesia terjadi keterlambatan atau ketidaksediaan
membuat pasar di Indonesia terpengaruh dampaknya dalam hal produksi impor dari
Eropa (tekstil, pangan, migas, non migas ).
BAB III
PEMBAHASAN
DATA
1. DATA-DATA KRISIS EKONOMI INDONESIA
INDIKATOR UTAMA EKONOMI INDONESIA 1990 - 1997
|
1990
|
1991
|
1992
|
1993
|
1994
|
1995
|
1996
|
1997
|
Pertumbuhan
ekonomi (%)
|
7,24
|
6,95
|
6,46
|
6,50
|
7,54
|
8,22
|
7,98
|
4,65
|
Tingkat
inflasi (%)
|
9,93
|
9,93
|
5,04
|
10,18
|
9,66
|
8,96
|
6,63
|
11,60
|
Neraca
pembayaran (US$ juta)
|
2,099
|
1,207
|
1,743
|
741
|
806
|
1,516
|
4,451
|
-10,021
|
Neraca
perdagangan
|
5,352
|
4,801
|
7,022
|
8,231
|
7,901
|
6,533
|
5,948
|
12,964
|
Neraca
berjalan
|
-3.24
|
-4,392
|
-3,122
|
-2,298
|
-2.96
|
-6.76
|
-7,801
|
-2,103
|
Neraca
modal
|
4,746
|
5,829
|
18,111
|
17,972
|
4,008
|
10,589
|
10,989
|
-4,845
|
Pemerintah
(neto)
|
633
|
1,419
|
12,752
|
12,753
|
307
|
336
|
-522
|
4,102
|
Swasta
(neto)
|
3,021
|
2,928
|
3,582
|
3,216
|
1,593
|
5,907
|
5,317
|
-10.78
|
PMA (neto)
|
1,092
|
1,482
|
1,777
|
2,003
|
2,108
|
4,346
|
6,194
|
1,833
|
Cadangan
devisa akhir tahun (US$ juta)
|
8,661
|
9,868
|
11,611
|
12,352
|
13,158
|
14,674
|
19,125
|
17,427
|
(bulan
impor nonmigas c&f)
|
4,7
|
4,8
|
5,4
|
5,4
|
5,0
|
4,3
|
5,2
|
4,5
|
Debt-service
ratio (%)
|
30,9
|
32,0
|
31,6
|
33,8
|
30,0
|
33,7
|
33,0
|
|
Nilai
tukar Des. (Rp/US$)
|
1,901
|
1,992
|
2,062
|
2.11
|
2.2
|
2,308
|
2,383
|
4.65
|
APBN* (Rp.
milyar)
|
3,203
|
433
|
-551
|
-1.852
|
1,495
|
2,807
|
818
|
456
|
* Tahun
anggaran
Sumber : BPS, Indikator Ekonomi; Bank Indonesia, Statistik Ekonomi Keuangan
Indonesia; World Bank, Indonesia in Crisis, July 2, 1998
2.
DATA-DATA KRISIS GLOBAL
Bagaimana gelombang Krisis yang dimulai sejak akhir 2007 yang berlanjut
pada periode penyelamatan Bank Century pada Akhir 2008 dan kondisinya sampai
2009, Anda dapat mengetahui kronologis peristiwa Internasional awal mula krisis
terjadi dari akhir 2007, kemudian kondisinya yang semakin memburuk sampai pada
tindakan yang dilakukan dalam penyelematan Bank Century.
Pada grafik
di bawah ditunjukkan grafik pergerakan untuk
- DJI - Dow Jones Index (warna
biru), yang merupakan salah satu indikator utama perekonomian US
- USD/IDR - Nilai pertukaran Kurs
US Dollar dengan Rupiah (warna merah)
- JCI - Jakarta Composite Index /
IHSG - Indeks Harga Saham Gabungan (warna hijau)
Grafik di
bawah menunjukkan, menjelang November 2008, nilai DJI mengalami penurunan
drastis kurang lebih sebesar 30%, begitu pula kurs USD-IDR naik 20% dan IHSG
mengalami penurunan sekitar 30%.
BAB IV
KESIMPULAN
Kesimpulan
Krisis
ekonomi merupakan suatu situasi dimana perekonomian suatu negara mengalami
penurunan nilai tukar mata uang harga kebutuhan pokok yang semakin tinggi. Ada beberapa kasus krisis ekonomi yang pernah terjadi di dunia
diantaranya krisis
ekonomi Indonesia
tahun 1997-1998,
krisis ekonomi global tahun 2008 dan krisis ekonomi Eropa tahun 2011. Berbagai kasus krisis ekonomi yang pernah terjadi
tersebut selalu berpengaruh terhadap perubahan perekonomian Indonesia . Hal ini
tentunya berdampak negatif terhadap berbagai sektor kehidupan dan imbasnya
terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dalam hal ini pemerintah dan
rakyat harus berperan serta dalam mengatasi permasalahan ini dengan bekerjasama
untuk lebih berhati-hati dalam membangun perekonomian Indonesia ini.
SARAN
Kepada masyarakat untuk tetap bersabar terhadap
situasi permasalahan kita ini dan mempercayakan segala sesuatu kepada
pemerintah. Dan dimulai dari pribadi dan diri sendiri, untuk mengikuti saran
yang telah dituliskan di atas. Dan bagi para mahasiswa untuk menjadi lebih
kritis. Semoga makalah ini menjadi kajian yang baik meskipun masih terdapat
kekurangan. Atas perhatian dari seluruh pihak, kami ucapkan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Erlangga, (2002), Perekonomian Indonesia
Tantangan dan Harapan Bagi Kebangkitan Indonesia.
Boediono, (2009), Ekonomi Indonesia, mau
dibawa kemana?
laniusm09.blogspot.com
ade-suyitno.blogspot.com
rutac.wordpress.com
arvinradcliffe.blogspot.com
blajareko.blospot.com